Apakah yang namanya “Paguyuban” di lingkungan gereja katolik hanya merupakan slogan dan emblim serta promosi semata? Apakah benar bahwa Paguyuban yang (maaf) didegang-degungkan itu menjadi sebuah realitas di tengah-tengah kita? Disinyalir (mudah-mudahan keliru), akhir-akhir ini muncul suasana yang tidak mengenakkan dalam rangka hubungan pribadi di antara kita, di tingkat keluarga, lingkungan, bahkan mungkin antara pengurus dewan paroki! Masalah-masalah sepele merebak menjadi gep-gep yang mengarah pada perpecahan jemaat.
Mungkin ini sedikit membantu menumbuhkan dan mengembangkan Paguyuban Sejati: 7 Tips Membangun Paguyuban Sejati.
- Belajarlah untuk bisa bekerja-sama dengan siapapun. Tidak perlu pilih-pilih dengan siapa anda mau/berminat bekerja-sama. Tidak baik membuat gep-gep dan getho-getho (kelompok-kelompok eksklusif).
- Bangunlah komunikasi yang baik, d.k.l. sampaikanlah peluang dan tantangan yang ada untuk mendukung kemajuan bersama.
- Jangan mudah tersinggung akan hal yang tidak jelas. Bukankah itu “membuang energi” yang tidak perlu?
- Kembangkanlah keutamaan mudah mengampuni, bila ada gesekan-gesekan yang muncul. Bila tidak gesekan itu justru menjadi bibit-benih perpecahan Paguyuban.
- Jangan pernah tertarik untuk ikut dalam arus issue dan fitnah, bila anda memang tidak tahu duduk persoalannya.
- Milikilah sikap kritis terhadap segala sesuatu yang anda lihat, anda dengar dan anda hadapi.
- Bersikaplah dewasa dalam karya dan pelayanan.