Keutamaan Kristiani

Reflesi bersama Rm. Simon Atas Wahyudi, Pr.

Biblis. Kalau mencermati Alkitab, betapa banyak kata-kata bijak, yang dalam bahasa iman sering disebut keutamaan kristiani. Sudah sejak Perjanjian Lama, bangsa Yahudi menggunakan kesempatan pengajaran untuk mewariskan nilai-nilai keutamaan tersebut. Para Nabi, para pemimpin kenisah, para tokoh bangsa tampil mengamanatkan bahasa keutamaan itu agar hubungan mereka dengan Yahwe tetap langgeng abadi.

Dalam perkembangannya, gereja perdana mematrikan keutamaan itu menjadi pegangan hidup beriman. Perjanjian Baru menekankan tiga keutamaan yang pokok, yakni: Iman, Harapan dan Kasih. Tulisan santo Paulus kepada Jemaat di Korintus memaparkan secara panjang lebar ketiga keutamaan kristiani tersebut.

Iman. Kitab Mazmur (26:1) merefleksikan “Aku telah hidup dalam ketulusan; kepada Yahwe aku percaya dengan tidak ragu-ragu”. Kalau tidak hati-hati kita bisa menangkap bahwa ia percaya kepada kehebatan dirinya, potensi dan kemampuan dirinya sendiri atau juga perbuatan-perbuatannya sendiri. Yang ia percaya/percayai tidak lain tentu Allah sendiri. Ketulusan hatinya merupakan bukti kepercayaan kepada Allah. Dihadapan Allah, yang ditutut tidak lain adalah sikap yang benar, yakni: iman atau kepercayaan.

Percayalah kepada Tuhan dan lakukan yang baik… dan bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidup-mu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.” (Mzm 37:3). Juga “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri.” (Ams 3:5)

Perjanjian Lama melihat bahwa yang dapat diandalkan hanyalah Tuhan. Mereka tidak mengandalkan segala yang mereka lakukan atau dilakukan bangsa lain yang menyembah ilah-ilah lain. Abraham disebut sebagai Bapa Bangsa justru karena keberaniannya mengambil sikap iman yang total terhadap panggilan Allah.

Sedangkan dalam Perjanjian Baru, inti dasarnya adlaah: Allah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. Ia melaksanakan karya itu lewat salib, wafat dan kebangkitanNya. Maka, iman tidak lain adalah sikap dimana seseorang melepaskan andalan pada segala usahanya sendiri untuk mendapatkan keselamatan, entah itu kebajikan, kebaikan susila atau apa saja, lalu sepenuhnya mengandalkan Yesus Kristus, dan meyakini hanya dari Yesus keselamatan itu terlaksana. Bisa direnungkan bagaimana kepala penjara di Filipi, yang dibacakan dalam Ekaristi harian masa Paskah yang lalu, percaya dan mengandalkan Tuhan agar selamat (cv. Kis 16:30). Kristus, Seorang beriman tidak menerima hal-hal tertentu sebagai sesuatu yang benar; melainkan menyerahkan diri kepada pribadi Kristus. “Ia harus menyangkal diri dan mengikuti Aku”, inilah iman yang sesungguhnya!

Harapan. Kiranya lumrah, bahwa seseorang memandang masa depannya. Siapa yang tidak pernah mengangankan dan menginginkan sesuatu yang lebih baik, di masa-masa mendatang? Bahkan kadang harapan itu tanpa dasar yang cukup rasional sekalipun. Yang mengherankan adalah bawha para pemikir sekuler di dunia kuno tidak melihat harapan sebagai keutamaan atau sebagai kebaikan, melainkan sekedar angan-angan sewaktu-waktu. Paulus justru mengatakan harapan pemikir sekuler itu adalah harapan orang yang hidup “tanpa Tuhan”. Tanpa Tuhan; sebab dimana tidak ada keyakinan akan Allah yang hidup, yang mempunyai prakarsa dan tindak, dengan campur tanganNya dalam hidup manusia, yang bisa dipercaya akan menepati janji; di situ sebenarnya tidak pernah ada harapan yang sesungguhnya. Demikian pula sebaliknya. Harapan tidak tergantung pada apa yang dimiliki seseorang bagi dirinya sendiri. Harapan juga tidak tergantung pada apa yang bisa diperbuat orang lain bagi dirinya. Seorang yang percaya (=beriman) kepada Tuhan, tentu berani “berharap juga” (cf. Rom 4:18). Orang kristiani berani mengharapkan berkat di masa mendatang (2 Kor 1:10), karena percaya akan karya penebusan Kristus.

Harapan bercirikan beberapa aspek sbb:
1.Baginya: kemurahan Tuhan tidak pernah kering.
2.Baginya: yang terbaik masih belum tiba jua.
3.Baginya: perbuatan-perbuatan Tuhan akan semakin membawa keselamatan.
4.Baginya: ada keyakinan bahwa yang ia harapkan akan menjadi kenyataan.

Yesus mengajarkan agar para murid tidak terlalu mencemaskan hari esok, karena hari esok ada dalam tangan Bapa yang penuh kasih. Kepada-Nya-lah setiap orang beriman menaruh keyakinan, “Allah sumber pengharapan”. Hanya Dia-lah yang dapat mengisi hidup orang beriman dengan kesukaan dan sejahtera dan memampukan dia memiliki harapan yang berlimpah-limpah (Rom 15:13). Karena kebangkitan Kristus, orang beriman diselamatkan dari keadaan yang buruk, yakni harapan yang hanya terbatas di dunia ini saja (1 Kor 15:1. 9). Harapan kaum beriman adalah harapan pada masa kini, masa mendatang, dan untuk selamanya. Panggilan itu mencakup pengharapan untuk hidup dalam kemuliaan Kristus (Ef 1:18), yang tersedia di sorga (Kol 1:5) dan dinyatakan pada kedatanganNya kembali (1 Ptr 1:13). Harapan orang kristiani terlepas dari mengutamakan kepentingan diri sendiri semata. Ia hanya mengharapkan berkat bagi dirinya sendiri, yang ia ingin bagikan kepada orang lain. Paulus sendiri mengalami bagaimana harapannya sebesar kasih dan imannya ketika mengalami kasus Onesimus, hamba Filemon.

Kasih. Kasih adalah ungkapan yang paling dalam dari seseorang sekaligus hubungan pribadi yang paling erat. Di dalam kasih ia bisa mengalami penyerahan yang total dari dan terhadap pribadi yang dikasihinya. Pada dasarnya, kasih itu merupakan kekuatan dari dalam (Ul 6:5) yang mendorong untuk melakukan sesuatu yang mendatangkan kegembiraan (Am 10:13), memperoleh objek yang membangkitkan hasrat (Kej 27:4), terdorong untuk melakukan pengorbanan diri demi kebaikan orang yang dikasihinya (Im 19:18, 34) dan menjadi ungkapan penyerahan yang tulus (1 Sam 20:17-42).

Perjanjian Lama menegaskan bahwa kasih Allah kepada manusia mencakup tiga sifat pokok, y.i.: kolektif, pribadi dan selektif. Kolektif: yang menjadi objek kasih Allah adalah suatu bangsa, Israel (Ul 4:37). Pribadi: kasih itu lebih dalam dari kasih seorang ibu bagi anaknya (Yes 49:15. 66:13); kasih yang disertai kerelaan untuk menanggung derita, bukan sekedar hubungan yang hanya berdasarkan suatu hukum; kasih yang menjadi bagian dari pribadi Allah, yang kuat dan tetap, tak goncang oleh murka dan ketidaksetiaan yang dikasihinya. Mengagumkan, itu komentar yang patut diberikan!

Selektif: yang membedakan kasih Allah dengan ilah/dewa bangsa lain adalah: bangsa lain memiliki dewa-dewi karena alasan kodrati dan geografis; sedangkan bagi Israel Allah-lah yang lebih dahulu mengambil inisiatif dan memilih Israel karena Ia mengasihi mereka (Yes 43:4).

Perjanjian Lama juga menekankan kasih itu sebagai tugas yang harus dipenuhi yakni kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Kasih diterapkan untuk mengungkapkan ketaatan kepada Allah dan menjalin hubungan yang baik dengan sesama.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus menekankan bahwa kasih itu itu harus dibalas dan timbal balik sifatnya. Kasih Allah bagi manusia diwujudkan dalam penyelamatan melalui salib, dan ini adalah ungkapan kasih yang paling nyata: memberikan hidup bagi yang dikasihiNya (Gal 2:20, Rom 5:8). Sifat kasih PB sama dengan PL, yakni a.l. selektif, dengan objek Israel baru. Allah ingin menyelamatkan seluruh dunia yang sifatnya persekutuan (1 Ptr 2:9) namun Allah tetap mengasihi secara pribadi setiap manusia (Gal 2:20).

Kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia tidak pernah bisa saling dilepaskan. Hubungan kasih dengan Allah adalah hubungan iman (Mat 9:22). Mengasihi sesama harus menyangkut yang adikodrati, yakni kemuridan gereja perdana terwujud dalam persekutuan yang saling mengasihi satu sama lain (Ef 4:2, Flp 2:1); yang sekaligus bisa menjadi kesaksian bagi dunia (Yoh 13:35).

Refleksi kita? Kombinasi ketiga keutamaan pokok iman, harapan, kasih terdapat dalam 1 Tes 1:3, 5:8, Gal 5:5,6; 1 Kor 13:3, Ibr 6:10-12 dan 1 Ptr 1:21,22. Iman, harapan dan kasih tidak pernah bisa dipisahkan satu sama lain. Ketiganya tetap tinggal dan bersama-sama mencirikan pola hidup kristiani. Ketiga keutamaan kristiani yang pokok, yakni Iman, Harapan dan Kasih harus tumbuh dan berkembang menjadi dasar pijak seluruh upaya dan daya kita membangun hidup, baik sebagai pribadi, dalam keluarga dan dalam masyarakat. Kehidupan zaman ini menuntut iman yang lebih tangguh, banyak orang yang putus asa dan lari dari Tuhan, karena merasa Tuhan tidak bisa lagi diandalkan.

Kehidupan millenium ini menuntut harapan yang kuat, betapa banyak orang stress dan terpuruk karena tidak mampu lagi berharap! Segalanya tampak suram, segalanya tidak mungkin menjadi tidak mungkin baik. Demikian pula kehidupan saat ini menuntut orang memiliki kasih yang tulus dan sejati. Meski kita sendiri menghadapi dan mengalami perjuangan hidup yang “berat”, betapa lebih banyak lagi saudara-saudara kita yang lebih besar dan berat perjuangan hidupnya! Tanpa kasih, kita tidak mungkin berbuat sesuatu untuk mereka . Apakah rahmat itu eksklusif milik kita? Pertanyaan ini tidak menuntut jawaban, tetapi menuntut sikap yang real; mencintai bukanlah sikap hati dan perasaan batin, mencintai adalah pemberian diri, pemberian hidup dan pemberian segala yang diperlukan oleh sahabat dan sesamaku! Anda mau berbagi hidup dengan mereka?

Jalan-jalan sepanjang jalan arteri;
Mampir sejenak ke warungnya pak Pardi,
Pesan babi goreng, pakai tepung dan pati;
Enak sekali, rasa tak tertandingi! Yakiiiin!
Sahabat, apa kerinduan hati ini?
Aku ingin iman yang sejati,
Kupatrikan harapan yang abadi,
Kunantikan kasih sampai mati,
A m i i i n!

Bergegas. Musuh utama kita terus menerus mencari cara untuk menjauhkan kita dengan Tuhan. Iblis tidak habis-habisnya berpikir dan berpikir mencari upaya bagaimana manusia menjauh dan jatuh. “Kesabaran” (atau ada istilah lain yang bisa menggantikannya) iblis untuk menjatuhkan manusia sungguh mengagumkan; ia tekun dan setia dengan komit awal, kalau strategi itu….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: