Surat Gembala Prapaskah 2008

MENGEMBANGKAN HIDUP SEJATI MEMELIHARA ALAM

Ibu/Bapak,
Para Suster/Bruder, Romo,
Kaum muda/Remaja dan Anak-anak di Keuskupan Agung Semarang, Saudari/saudaraku yang terkasih dalam Kristus.

1. Ketika saya menulis surat ini, beberapa paroki di Keuskupan kita, bekerjasama dengan Karitas Keuskupan Agung Semarang dan lembaga-lembaga lain, sedang sibuk membantu umat/warga masyarakat yang tertimpa bencana banjir. tanah longsor, angin puting beliung dan bencana bencana lain. Sementara itu paroki-paroki lain menunjukkan keprihatinannya dengan terus mendorong umat untuk berbelarasa dengan para korban, dengan mengunjungi, memberi bantuan, menjadi relawan/relawati untuk meringankan beban-beban yang harus ditanggung para korban. Pada tingkat nasional dan global keprihatinan-keprihatinan misalnya mengenai kerusakan lingkungan dan perubahan iklim pemanasan bumi juga masih terus menjadi berita. Muncul pertanyaan mendasar: mengapa alam yang diciptakan oleh Allah sebagai “yang baik adanya”, rasanya semakin tidak bersahabat dengan manusia, bahkan semakin mengancam?

2. Salah satu jawaban yang dapat diberikan ialah karena manusia sudah lebih dahulu tidak bersahabat dengan alam; mengeruk kekayaan alam secara berlebihan dan dengan demikian merusaknya. Perusakan alam inilah yang menjadi salah satu sebab utama munculnya bencana yang disebabkan oleh manusia, bukan bencana alam yang memang di luar kemampuan manusia untuk mencegahnya. Adapun akar yang paling dalam dan tindakan manusia merusak alam ialah keserakahan. Orang serakah tidak akan pernah berkata “cukup”. Oleh Rasul Paulus orang serakah disebut sebagai penyembah berhala (bdk Kol 3:5). “Tuhan mereka adalah perut mereka … pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (FIp 3:19). Mereka tidak mencari Tuhan dan melakukan hukum-Nya (bdk Zef 2:3). Mereka tidak “bermegah dalam Tuhan” (1 Kor 1:31). Mereka tidak mengalami kebahagiaan sebagai orang-orang yang empunya Kerajaan Sorga (bdk Mat 5:3.10). Orang serakah mengingkari jati dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Hidupnya tidak sejati.

Saudari/saudaraku yang terkasih,

3. Rabu (6/3) adalah Hari Rabu Abu. Pada hari itu kita memasuki masa Prapaskah, masa puasa dan pantang. Kita ingin menjalani masa puasa dan pantang ini secara benar. Memang berpuasa dan berpantang menyangkut hal mengurangi makan dan minum. Namun intinya adalah pertobatan, kembali kepada Tuhan dan jalan-Nya serta mencari kesempatan untuk mewujudkan iman kita dalam bentuk-bentuk yang sesuai dengan tanda-tanda jaman. Salah satu tanda jaman yang amat jelas sekarang ini adalah rusaknya lingkungan hidup. Karena itulah dalam rangka Aksi Puasa Pembangunan, pada lingkup nasional, kita diajak untuk mendalami tema “Kesejatian Hidup Dalam Pemberdayaan Lingkungan”. Pada lingkup Keuskupan kita, kita diajak mengembangkan pemikiran dan gerakan “Bersama Anak dan Remaja Memberdayakan Lingkungan Hidup”. Pendalaman atas pokok perenungan itu diharapkan dapat membarui hidup dan lingkungan kita. Ajakan untuk membarui hidup dan Iingkungan itu dapat kita rasakan misalnya dalam semboyan yang dipakai sebagai judul bahan perternuan untuk anak-anak: Ubah Sampah Jadi Berkah. Kita juga diajak membarui diri dan lingkungan dengan mengubah pola berpikir dan pola berbahasa kita, misalnya dengan tidak lagi berkata ‘membuang sampah”, tetapi “menaruh sampah di tempatnya”.

4. Kecuali menjalani masa Prapaskah secara pribadi, baik juga diusahakan agar masa penuh rahmat mi dijalani bersama-sama dalam keluarga, komunitas, lingkungan, wilayah, stasi atau paroki. Karena – sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Zefanya, – keluarga, komunitas, Iingkungan, wilayah dan paroki kita diharapkan menjadi umat yang rendah hati (artinya tidak serakah) dan mencari perlindungan pada nama Tuhan (artinya tidak mengandalkan harta duniawi saja) (bdk Zef 3:12-13); atau seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, menjadi umat yang mengalami pembenaran, pengudusan dan penebusan Kristus ( bdk I Kor 1 :30). Dengan menghayati bersama sabda Tuhan tersebut, keluarga, komunitas, lingkungan, wilayah, stasi atau paroki diharapkan dapat berkembang menjadi minoritas yang kreatif – artinya kelompok kecil yang hidup dengan habirus baru, (pola berpikir, pola bertindak, pola berbahasa baru), yang dibangun atas dasar Injil (Ardas KAS al.2). Kita boleh herharap semoga dan keluarga, komunitas, lingkungan, wilayah dan paroki-paroki kita, muncul gerakan gerakan kreatif khususnya yang berkaitan dengan tanggungjawab kita untuk mengembalikan dan merawat alam ini sebagai yang tetap dan semakin “baik adanya”

5. Akhirnya, saya mengajak agar sejauh mungkin Ibu/Bapak/Suster/Bruder/Rama/ Kaum Muda/Anak-anak dan Remaja ikut hadir dan terlibat dalam pertemuan-pertemuan di lingkungan atau kelompok-kelompok lain dalam rangka masa Prapaskah mi. Semoga dengan demikian persaudaraan semakin diteguhkan. Yang karena berbagai alasan tidak mungkin hadir dalam pertemuan-pertemuan seperti itu, diharapkan juga dapat mengisi masa penuh rahmat m secara kreatif. Terima kasih atas segala bentuk peran serta dan keterlibatan dalam pelayanan di Keuskupan Agung Semarang. Berkat Tuhan melimpah untuk keluarga-keluarga dan komunitas kita. Dan semoga Tuhan meneguhkan persaudaraan pekerjaan, pengabdian dan seluruh fiat-fiat baik kita.

Semarang, 2 Februari 2008
Mgr. Ign. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: