Imlek dan Prapaskah

Refleksi Iman bersama Romo G. Notobudyo, Pr. 

Tanggal 7 Februari 2008 adalah tahun baru Imlek. Sekarang tahun baru Imlek bukan hanya milik etnis Tionghoa saja, tetapi sudah menjadi milik bangsa Indonesia, yang Bhineka Tunggal Ika. Nyatanya sudah dijadikan hari libur nasional. Ungkapan perayaannya pun seperti barongsai dengan perangkat penabuh gendangnya tidak hanya dilakukan orang-orang Tionghoa saja, tetapi sudah banyak suku lain di Indonesia/Jawa ikut menyemarakkannya.  

Menurut shio, tahun ini adalah shio tikus yang merupakan tahun pertama dari siklus shio. Memang banyak pandangan negatif tentang tikus. Tikus banyak akal licik. Sebagaimana sebetulnya tahun pertama adalah tahun kerbau, tetapi waktu binatang-binatang shio berlomba menghadap dewa pengatur waktu, tikus ndompleng dipunggung kerbau dan dia dijadikan tahun pertama sedangkan kerbau dijadikan tahun kedua. 

Tikus sering dianggap sebagai hama perusak tanaman padi, jagung atau tanaman lain, maka harus diburu dan dibinasakan. Tikus juga sering dijadikan lambang tukang korupsi (koruptor). Tetapi di tahun tikus ini mungkin ada sifat baik tikus yang dapat kita tiru, ialah semangat daya juangnya untuk mempertahankan hidup. Tikus selalu rela dijadikan kelinci percobaan untuk kepentingan manusia. Penemuan serum baru atau obat-obatan baru selalu dicobakan pada tikus, karena tikus mempunyai struktur dan sifat tubuh yang sangat mirip dengan manusia. Seandainya gagal pun bukan jadi masalah karena hanya tikus sebagai kelinci percobaan. 

Kebetulan atau sayangnya tahun baru Imlek ini datangnya bersamaan dengan masa prapaskah, sehingga bagi umat katolik yang merayakan imlek sekaligus menyambut masa Prapaskah, agak kerepotan dan merasa tidak sreg kakau mau mengadakan pesta/makan-makan enak di hari Rabu Abu yang merupakan hari Puasa dan berpantang. Namun dalam hal ini gereja menyerahkan pada kebijaksanaan dan hati nurani masing-masing.  

Masa Prapaskah adalah masa belarasa dengan sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus. Selama masa Prapaskah gereja tidak menyanyikan Halleluya, yang artinya Tuhan menang. Itu baru akan kita nyanyikan kembali setelah Paskah, Kristus bangkit, Kristus menang. Semangat belarasa ini terpenting selama masa Prapaskah. Maka sebut saja soal pantang dan puasa, gereja tidak mau memberi peraturan yang jelas dan tegas, supaya orang tidak merasa, kalau sudah mentaati peraturan puasa-pantang berarti sudah berbelarasa dengan sengsara dan wafat Kristus. 

Tentang puasa umapamanya, gereja hanya memperingatkan: hari puasa wajib adalah saat Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari-hari lain umpama setiap hari Jumat bahkan setiap haripun, kecuali Minggu, mau puasa boleh, baik, silakan, tetapi tidak berpuasa pun tidak apa-apa tidak ada masalah. Cara berpuasanya pun sehari hanya boleh makan kenyang satu kali. Makan berkali-kali asal tidak kenyang tak jadi masalah, boleh. Dan yang dilarang hanya makan kenyang lebih satu kali, kalau minum kenyang tidak melanggar aturan. Mau minum kenyang 50 kali sehari tidak berdosa, dan minum tidak harus air, boleh dawet, es kopyor ataupun rujak degan juga tak dilarang, apalagi minumnya biasanya ada temannya pisang goreng atau lemper, sampai kenyang tidak berdosa. Praktis aturan puasa tidak ada artinya. Sekali lagi yang terpenting bukan aturan melainkan belarasa. 

Aturan pantang juga demikian. Boleh memilih pantang daging, pantang ikan, pantang garam, pantan rokok atau pantang jajan. Ini bukan supaya kita mudah berkelit, memilih pantang yang gampang atau tidak artinya (umpama ibu-ibu memilih pantang rokok), melainkan justru supaya bisa lebih terasa mana yang anda rasa paling berat. Lalu nilai uang yang kita puasa/pantangkan ini harus kita amalkan masuk ke kotak APP untuk membantu mereka yang sangat membutuhkan. Sangat baik pula, selama masa Prapaskah ini kita galakkan kembali Adorasi di depan Sakramen Mahakudus, berbelarasa dengan Tuhan Yesus yang sakrat maut di Taman Gethsemani. “Tidak bisakah kamu menemani Aku satu jam saja?” – jawablah pertanyaan atau jeritan Yesus ini, terutama selama masa Prapaskah! Pertemuan APP di Lingkungan juga merupakan solidaritas kita dalam berbela rasa dengan sengsara, derita dan wafat Tuhan Yesus. 

Gog Xie Fat Choy & Selamat menunaikan Ibadah Puasa!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: