Membangun Paguyuban Sejati

Apakah yang namanya “Paguyuban” di lingkungan gereja katolik hanya merupakan slogan dan emblim serta promosi semata? Apakah benar bahwa Paguyuban yang (maaf) didegang-degungkan itu menjadi sebuah realitas di tengah-tengah kita? Disinyalir (mudah-mudahan keliru), akhir-akhir ini muncul suasana yang tidak mengenakkan dalam rangka hubungan pribadi di antara kita, di tingkat keluarga, lingkungan, bahkan mungkin antara pengurus dewan paroki! Masalah-masalah sepele merebak menjadi gep-gep yang mengarah pada perpecahan jemaat.

Mungkin ini sedikit membantu menumbuhkan dan mengembangkan Paguyuban Sejati: 7 Tips Membangun Paguyuban Sejati.

  1. Belajarlah untuk bisa bekerja-sama dengan siapapun. Tidak perlu pilih-pilih dengan siapa anda mau/berminat bekerja-sama. Tidak baik membuat gep-gep dan getho-getho (kelompok-kelompok eksklusif).
  2. Bangunlah komunikasi yang baik, d.k.l. sampaikanlah peluang dan tantangan yang ada untuk mendukung kemajuan bersama.
  3. Jangan mudah tersinggung akan hal yang tidak jelas. Bukankah itu “membuang energi” yang tidak perlu?
  4. Kembangkanlah keutamaan mudah mengampuni, bila ada gesekan-gesekan yang muncul. Bila tidak gesekan itu justru menjadi bibit-benih perpecahan Paguyuban.
  5. Jangan pernah tertarik untuk ikut dalam arus issue dan fitnah, bila anda memang tidak tahu duduk persoalannya.
  6. Milikilah sikap kritis terhadap segala sesuatu yang anda lihat, anda dengar dan anda hadapi.
  7. Bersikaplah dewasa dalam karya dan pelayanan.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: