Pernahkah Anda Menyangkal Yesus

Refleksi Menjelang Perayaan Paskah

 

Saat kita bersama-sama sedang mempersiapkan Perayaan Paskah, berbagai peristiwa sekitar kebencian, penangkapan sampai pada pembunuhan dan kebangkitan Yesus, menjadi bahan permenungan gereja. Di banyak perikopa, baik Injil Sinoptik maupun Injil Yohanes, kita mendapatkan wacana yang amat luas dan kaya, bagimana Allah mengambil inisiatif keselamatan, berhadapan dengan yang namanya kebencian, kemarahan dan dendam “bangsa Yahudi” kepada Yesus, utusan Allah.

 

YESUS DAN PENGAKUAN IMAN

Sejak hari Minggu Prapaskah pertama kita diajak untuk “memetri” iman kita berhadapan dengan berbagai macam peristiwa kehidupan, yang bisa saja membawa kita semakin jauh dari panggilan dan perutusan sebagai murid.

Ketika digoda Setan (Mat 4:1-11/Prapaskah I), Yesus menyatakan sikap tegasNya “Hypage, Satana”, “enyalah, iblis”. Dia tidak menolak tugas dan perutusanNya menjadi manusia yang lemah, sekalipun Ia sadar dan tahu bahwa itu berat dan tidak enak. Dengan ini, Ia sadar, bahwa dengan menolak kemauan setan, Yesus mengedepankan kehendak Allah. Ia tidak mau menyangkal hakekat sebagai “anak manusia”. D.k.l. Yesuspun meng-“iman”-I Allah, BapaNya.

Upaya mengedepankan kehendak Allah inilah, yang rupanya amat berkenan bagi Allah, “Inilah Putera kesayanganKu, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat 17:1-8/Prapaskah II). Mengagumkan! Allah yang mengutus PuteraNya ternyata tidak meleset. Tidak ada kekecewaan dalam hatiNya.

Yesus berkenan bagi Allah ini, akhirnya diakui pula oleh wanita Samaria dan orang-orang sekampungnya (Yoh 4:5-42/Prapaskah III). Melalui proses pendalaman iman yang luar biasa; akhirnya hati wanita Samaria dibuka, ia mengakui “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi”, Ia tidak malu mengakuiNya, bahkan tanpa rasa takut sedikitpun ia bersaksi telah berjumpa dan diselamatkan! Luar biasa!

Demikian juga halnya dengan si buta, yang matanya dicelekkan Yesus; mengakui dengan lantang “Orang yang disebut Yesus itu … adalah seorang nabi” (Yoh 9:1-41/Prapaskah IV). Tanpa takut dan malu, bahkan di depan para pemimpin Yahudi, yang notabene membenci Yesus dan pasti akan mengucilkan siapapun yang mengakuiNya; si buta yang sembuh itu bersaksi “Telah kutakatan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?

Akhirnya; Maria dan Martha saudara Lazarus yang dibangkitkan Yesus (Yoh 11:1-45/Prapaskah V), mengakui Yesus bukan hanya sebagai pembuat mujijat, “Tukang penyembuh” orang sakit, tetapi “… Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia”.

 

PENYANGKALAN MURID YESUS

Banyak orang Yahudi yang sakit disembuhkan, banyak orang kusta menjadi tahir, banyak orang timpang dan lumpuh berjalan, orang buta dicelikkan, orang tuli mendengar, dan orang mati dibangkitkan. Mereka semua mengakui Yesus sebagai Putra Allah, Mesias, Utusan Allah, etc. Mereka adalah orang-orang yang mungkin tidak secara pribadi mengenal Yesus . Mereka adalah salah satu dari kerumuman orang-orang yang mengikuti Yesus, yang tertarik pada pribadi Yesus, yang mengharapkan datangnya Mesias pembebas dari sengsara penjajahan Romawi.

Bagaimana halnya dengan orang-orang yang dekat, yang secara pribadi mengenal Yesus, yang nyata-nyata dipanggil dan dipilih untuk ikut ambil bagian dalam tugas dan perutusan keselamatan Yesus? Petrus? Yohanes? Yudas? Thomas?

Apakah anda tahu bahwa Petrus itu diserahi kunci Kerajaan Surga? Apakah anda tahu bahwa Petrus itu “plin-plan”? Apakah anda tahu bahwa Petrus itu menyangkal Yesus sampai tiga kali? Bahakan penyangkalan Petrus pada saat penangkapan Yesus, itu semakin keras!

  1. Ketika ditanya status kemuridannya oleh seorang perempuan, Petrus menyangkal dengan menghindar! “Aktu tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksudkan.” (Mrk 14:68), atau mengelak “Aku tidak kenal Dia, hai perempuan” (Lk 22:57); ataupun tegas menolak. Bukan, aku bukan murid orang itu” (Yoh 18:17).
  2. Saat ditanya kedua kalinya; Petrus bukan hanya menyangkal, tetapi disertai dengan sumpah. “Aku tidak kenal orang itu!” (Mat 26:72)
  3. Penyangkalan Petrus menjadi dosa berat; karena yang ketiga kalinya, dia tidak hanya menyangkal dihadapan hamba perempuan penjaga pintu (I) atau di depan hamba lain di serambi atau di depan hamba lain di serambi muka (II); tetapi di hadapan hadirin. Jadi; penyangkalan Petrus III di depan banyak orang, secara yuridis, dosanya pasti jauh lelbih berat.

 

Dalam cerita lengenda yang berkembang pada zaman gereja-gereja awal; dikisahkan bahwa Petrus “menyangkal” untuk keduakalinya. Sesudah Yesus naik ke sorga; para murid diutus ke segela penjuru dunia untuk mewartakan Injil. Menghadapi tugas yang berat dan terancam untuk dibunuh; Petrus punya niat untuk melarikan diri dari tugas kerasulannya. Alkisah; karena takut ditangkap dan dibunuh Petrus diam-diam melarikan diri dari Roma. Sesampainya di jalan Apio, dekat kota Roma, Yesus yang sudah bangkit menampakkan diri dan menemui Petrus. Karena kaget dan malu: Petrus bertanya “Quo Vadis, Domine?” (Tuhan, Engkau mau pergi kemana?). Jawab Yesus “Aku mau disalibkan lagi!” Betapa malunya Petrus. Tanpa pikir panjang: dia balik 180 derajat, kembali menjadi rasul yang akhirnya dengan gigih mempertahankan iman dan mewartakan Injil dengan sukacita dan gembira.

 

ADAKAH PENYANGKALAN di ZAMAN INI?

Siapakah yang tahu, ada apa di lubuh hati anda? Beranikah kita mengakui iman akan Yesus sebagai penyembuh (seperti si buta atau si lumpuh atau si (“budhek”), atau Yesus sebagai Tuhan (Maria dan Martha dalam kebangkitan Lazarus)?

Atau justru sebaliknya, bukan hanya tidak mengakuinya tetapi pernahkah anda berpikir untuk menyangkal Yesus? Atau mungkin juga saat ini anda berada dalam status sebagai penyangkal Yesus? Bisa saja seperti Petrus dalam penyangkalan pertamanya: pura-pura tidak mengenal, pura-pura tidak tahu, pura-pura bukan pengikut Yesus, pura-pura bukan orang Katolik? Hanya supaya aman, tidak dikucilkan?

Atau lebih mengerikan lagi seperti penyangkalan Petrus kedua, yang dengan sumpah-sumpah, yakin-yakin bahwa bukan orang Katolik? Yakin-yakin bahwa tidak Katolik “lagi” koq!

Ketidak-mengakui Yesus ini bisa saja diwujudkan dengan berbagai macam bentuk peristiwa kehidupan a.l. menikah di luar gereja, pindah agama, ateis praktis (tetap katolik tetapi tidak pernah berdoa, tidak pernah ke gereja, tidak ada praktek hidup rohani secara Katolik sama sekali). Eeee, alllaaaaah.

Quo vadis, Gereja Kumetiran?” Mau kemana, mau menjadi seperti apakah gereja kita di masa-masa mendatang. Apakah ketangguhan dan kekuatan iman pada zaman ini bisa diwariskan (kita tekun dan setia mewariskan) dan diwarisi (anak-anak dan remaja kita mau dan berniat untuk mewarisi nilai-nilai kristiani)? Apa jadinya kalau anak-anak dan remaja serta kaum muda kita sama sekali tidak tertarik lagi dengan yang namanya iman (1), harapan (2) dan kasih (3) kepada Tuhan dan sesama? Apa jadinya kalau anak-anak dan remaja serta kaum muda kita sukannya foya-foya (1), santai-santai (2), “ora urusan” (3), tidak tangguh (4), dan rapuh (5)? Bukan tidak mungkin, penyangkalan di masa-masa mendatang jauuuh lebih mengerikan lagi dibanding penyangkalan di zaman ini.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: